Cerita Di Balik Pendampingan TCP - by Alfonso Harianja
TobaDream Conservation Program tidak akan terlaksana tanpa bantuan tim pendamping dari Badan Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli. Ini adalah tulisan dari salah satu anggotanya, Alfonso Harianja, mengenai kegiatan Konservasi TobaDream. (TD)
By Alfonso Harianja
Kalo suka sepakbola, maen atau nonton, pasti tau Liverpool. Kalo tau Liverpool, pasti akrab dengan motto team yang selalu dinyanyiin hooligan klub-nya dengan kompak “you’ll never walk alone“.
Saya juga sangat suka Liverpool. Iya “Owen”-nya (dulu), “Gerard-nya (sekarang), “merah”nya, “merchandise”-nya dan sponsor “adidas”-nya, he ..he..!. Tapi yang paling saya suka dari tim ini adalah semboyan tim-nya, yes..”you’ll never walk alone”-nya.
Bertugas dan diajak, ato tepatnya “dibajak” Lae Viky untuk manghobasi TOBADREM Conservation Program (TCP) merupakan pekerjaan yang asik dan banyak berkat-nya. Hal yang paling mengasyikkan dari kerjaan ini adalah bahwa saya semakin menyadari kalo dengan semboyan “we’ll never walk alone” kita pasti mampu mengerjakan sesuatu yang mungkin sedikit sulit dalam jaman sekarang ini. Semangat kerjasama memang penting, dan bisa jadi merupakan hal utama dalam menginisiasi TOBA DREAM Conservation Program ini, dan ah…secara jujur saya musti mengakui kalo Lae Viky Sianipar menularkan semangat itu pada kami sebagai pendamping kegiatan ini.
Sebagai seseorang yang bertugas sebagai koordinator pendamping, saya juga membagi semangat itu dengan teman-teman saya di Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli. O iya, sapa tahu banyak yang belum ngeh…Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli itu berada di KM 10.5, Jalan Raya Parapat - Pematang Siantar. Tepatnya di Hutan Pinus Harangan Ganjang. Nah, Balai Penelitian ini merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian Kehutanan, Departemen Kehutanan.
Tim pendamping kita emang masih kecil, cuma beranggotakan empat orang, tapi multi-etnis dan multi-disipliner. Saya sendiri membidangi Sosial Ekonomi Kehutanan, terus ada Lae Dimpu Jackson Panjaitan, S.Hut. dan Lae Hendry Elvin Simamora, S.Hut yang paten dalam bidang silvikultur, serta Mas Bambang Setyo Antoko, S.Hut., anak Jakarte yang gape dalam hal Pelestarian Sumber Daya Alam. Tetapi seiring perjalanan waktu, ada juga temen kerja kita yang sangat simpati dengan kegiatan ini, yakni Akang Sanuddin, S.Hut, M.Si, ahli Sosial Ekonomi Kehutanan dan Perencanaan Wilayah dari Ciamis, Alamsyah alias Buyung (saya bingung dia ini dari mana, Kalimantan ato Bogor?), serta Aswandi, S.Hut, M.Si (ahli silvikultur lagi, dari Pekanbaru).
Kawan-kawan inilah yang sangat suka dengan Tao Toba, Pulo Samosir serta masyarakat Batak, terutama dengan kondisi alam dan hutan di sekitarnya. Dengan semangat “satahi saoloan” kita menjelajahi seputar Danau Toba untuk mencari dan menemukan lahan untuk pelaksanaan TOBADREAM Conservation Program setelah sepakat dengan Lae Viky Sianipar dan komunitas TOBADREAM Jakarta pada Nopember 2007 untuk merealisasikan penanaman pohon di seputaran Samosir dan Danau Toba.
Apa yang menarik dari program ini? Di sini, kita akan cerita soal romantisme Samosir, yang sedikit mulai hilang….ditelan kemajuan teknologi dan globalisasi, wuih…jauh bener yach…
Kalo temen-temen dulu lahir dan bertumbuh di Samosir, ato sekitar tiga puluh tahun lalu pernah berkunjung ke Samosir, coba sedikit berefleksi, pada pagi hari temen-temen akan dibangunkan oleh kicauan burung sibigo yang berbulu kuning indah ditingkah gemericik bondar atau sungai di jokja (jonok jabu). Di siang dan sore hari akan mendengar suara induk burung elang yang membagi ikan hasil sambarannya dari Danau Toba bagi anak-anaknya di ketinggian pohon hariara yang gagah perkasa. Di sore hari, kita masih bisa berenang dan mandi di kesejukan air Danau Toba, dan di malam hari akan tidur dengan nyenyak di huta yang nyaman tanpa polusi karena dikitari pohon bambu dan diteduhi baringin dan jabi-jabi. Suatu untaian relaksasi yang bahkan Als dari Belgia atau David Jauernig dari Perancis rindukan untuk berkunjung ke Pulo Samosir dan Tao Toba.
Sekarang, cobalah pulang kampung dan menginap di huta, kebanyakan romansa itu telah hilang, pepohonan sudah mulai lenyap, lahan kritis semakin bertambah, banyak yang kosong dan terlantar. Danau itu masih tetap di situ, tetapi kebanyakan hewan dan pepohonan yang dulu mengerumuninya telah susah ditemukan karena rangkaian ekosistem itu telah terganggu.
Apa yang dulu sering kita dengar pada bait lagu “PULO SAMOSIR” - ‘gok disi haccang nang eme nang bawang, rarak do pinahan di dolok i“- telah berlalu. Naikilah kapal dari Tomok ke Ajibata atau Tigaraja, dari Onanrunggu ke Ajibata, atau dari Onanrunggu ke Balige, temen-temen akan sulit menemukan hasil-hasil pertanian itu untuk dipasarkan ke luar daerah, bahkan di hari-hari pasar (Sabtu di Ajibata dan Tigaraja, serta Jumat di Balige). Suatu indikator bahwa pertanian palawija sudah sulit dilakoni. Lebih jauh lagi, adalah pertanda, bahwa persil-persil lahan di Pulo Samosir sudah tidak subur lagi.
Jadi, masyarakat di sana sekarang menggantungkan hidupnya dari mana? Kalo lihat data yang dikeluarkan BPS (sesekali telusuri buku “Kabupaten Samosir dalam Angka”), ya tetap pertanian. Tetapi kalo kita inget-inget tipikal petani Indonesia secara umum, atau petani Batak secara khusus, maka sangat sulit dibayangkan kalo dengan lahan yang sempit dan tandus, apalagi tanpa dukungan irigasi dan iklim yang memadai, maka hasilnya pasti tidak akan cukup membutuhi keluarganya. Sebagian mereka menafkahi diri dengan mengandalkan kiriman uang dari anak-anaknya di perantauan, termasuk temen-temen yang baca ini, he he…dan berani taruhan, pasti tidak tercatat di buku hasil survei BPS itu.
Semangat memperbaiki kondisi alam itulah yang diidam-idamkan temen-temen kita para TOBADREAM-ers, dengan semangat empat lima menginisiasi program ini dan setelah berdiskusi panjang lebar, kita mulai TOBADREAM Conservation Program tepat pada hari pertama dalam seminggu, Senin, 3 Maret 2008, jam 03.00 WIB sore di Desa Martoba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dengan menanam tiga ratus pohon. Kenapa mesti tiga semua? Tanya aja Lae Viky coy…!
Lahan yang dipinjem untuk ditanami adalah lahan petani seluas dua hektar, yang keseluruhannya akan ditanami dengan pola campuran tanaman kayu (‘ingul’ -bukan Inul euy, mahoni, kayu manis, dan makadamia)..!, dan buah-buahan (alpukat, petai, durian dan lengkeng). Awalnya memang tiga ratus, tetapi akan dilanjutkan sampai dengan dua ribu pohon, sesuai dengan kapasitas lahan dan jenis pohon, yang mengacu pada hasil kesesuaian jenis tanah, tipe iklim dan ketinggian, hasil penelitian sebelumnya oleh senior-senior kita di Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli.
Kembali kepada hal menarik program ini, adalah keseriusan TOBADREAM-ers untuk bekerja mencintai alam, memulai dengan langkah kecil, tetapi serius untuk bermimpi pature Tao Toba dan Pulo Samosir. Sekarang saya mulai menyadari bahwa makna cinta terhadap alam harus diwujudkan melalui perbuatan dan mengamini bahwa mimpi bakal bisa diwujudkan melalui langkah kecil asal kita punya semangat mendampingi berfondasi kerja sama dan yeah…my Liverpool hymn..WE’LL NEVER WALK ALONE.
Acknowledgement:
Terimakasih buat para pendukung program ini, teman-teman inisator, Lae Viky Sianipar dan TOBADREAM-ers, teman-teman pendamping dari BPK Aek Nauli, anak-anak sekolah SD N Simanindo, SMP N Simanindo, SMA St. Mikael Pangururan, dan para pendonor dari seluruh pelosok Indonesia dan dunia.
Note:
Kalo ada kata-kata dalam Bahasa Batak yang kurang tau maknanya, tanyakan sama orang Batak terdekat, ato beli Kamus Bahasa Batak-Indonesia karangan J.P. Sarumpaet, M.A.

March 12th, 2008 at 9:47 pm
Horas lae Alfons. Semoga sukses selalu. Hanya Tuhanlah yang pantas mengganjar kerja mulia lae dan teman-teman menghijaukan kembali bonapasogit kita ini…
March 13th, 2008 at 1:30 am
Congratulation ya Alfons,…semoga idealisme teamnya tetap sepanjang masa supaya Tano Batak kita kembali hijau, sama dengan semangat global..go green! Alangkah baiknya kalau ada wadah untuk anak-anak sekolah perantau untuk turut serta berpartisipasi menanam pohon pada acara libur sekolah atau liburan akhir tahun, supaya mereka diajari dari kecil untuk mengenal, memelihara bona pasogit (pulang bukan hanya untuk pesta/gagah-gagahan saja). Kelak kalau sudah jadi orang tetap cinta dan mampu menciptakan proyek yang melestarikan Tano Batak, bukan proyek yang mengutamakan pundi-pundi. Ada yang berminat mengorganisir?
March 13th, 2008 at 2:01 am
Congrats Tobadreamers!
Kalo bukan kita yg mulai siapa lagi, jangan pernah menyerah ya. Tempat liburan semasa kecil jangan sampai jadi perbukitan tandus, hayo bro, kita “hejo” in lagi seperti masa-masa ada hassang, bawang dan csnya. Sure, you’ll never walk alone. God go with you.
March 13th, 2008 at 3:15 am
Salut…buat Lae Alfons Harianja dan kawan-kawan dari BPK Aek Nauli. Kalian begitu tulus membantu TCP, padahal pada saat kami singgah di rumahnya dalam perjalanan ke samosir, dia masih sulit bergerak yang disebabkan luka di sekujur tubuh akibat jatuh dari sepeda motornya sehari sebelumnya. Bukan saja hadir di acara, dia juga tetap bertanggungjawab mempersiapkan acara, dan ikut naik-lebih kurang 100 meter dengan kemiringan 45 derajat- ke tempat lahan penanaman,ditengah guyuran hujan.
Selain Alfons dan kawan-kawan, para guru dan murid juga begitu antusias, terutama para murid sekolah, mereka benar-benar menunjukka bahwa merekalah ahli waris tanaman itu dimasa yang akan datang. Hujan yang deras ,sama sekali tidak menyurutkan semangat, malah membangkitkan gairah yang tak tertahankan untuk menyatu dengan hamparan alam Danau Toba yang begitu eksotik.
“Pujilah Tuhan Dengan Menanam Pohon”, itulah tema dalam TCP ini. “Pendekatan spiritual” sengaja dipilih sebgai ganti “pendekatan bencana”. Toba Dreamer sangat sadar bahwa semua ciptaan Tuhan - manusia, binatang, tumbuhan - punya hak yang sama untuk hidup dan berkembang biak, itulah yang disebut “Etika Lingkungan atau Etika Ekologi”. Tidak boleh yang satu menguasai yang lain, ketiga unsur tersebut harus saling menjaga dalam proses pemenuhan kebutuhan masing-masing. Dengan demikian terciptalah keseimbangan ekosistem.
Horas
March 13th, 2008 at 9:03 pm
Congratulation for Alfons and Vicky S and the Team.
The best news for the year 2008 !!
Toba Dream Conservation Team adalah project generasi Muda yang perduli menjaga lingkungan alam dan sekitarnya. Semoga lahan conservasinya makin luas dan menjadi pilot project buat daerah lainnya.
March 16th, 2008 at 7:51 pm
Sorry, baru kasih tanggapan.
Aku baru pulang dari Sianjur Mula-Mula, Sibolangit, Merek, Tongging, Tanjung Unta and Sipolha untuk nginisiasi restorasi ekosistem Lake Toba Catchment Area. Kalo yang ini sih tugas kantor. Pokoknya hampir tiap hari nikmatin Danau Toba. Terus Hari Kamis kemaren, tgl 13-03-08 (kantor gua juga lagi seneng angka 3 nih), temen-temen kantor di anu (aek nauli) nanam pohon juga di tebing-tebing di atas Hotel Patra Jasa, Parapat. Sedikit sih, ‘cuma’ 500 pohon, tapi maknanya itu cing, dilakukan dalam rangka Hari Bakti Kehutanan (Ini mestinya tiap tahun). Otreh, thanks for all comments. Hope we can run this program continuosly. With love, of course.
April 3rd, 2008 at 8:08 pm
Congrats..
Teruskan perjuangannnya lae,konservasi hutan wjib hukumnya untuk terus dilakukan agar kita tidak kehilangan keindahan alam Toba Samosir hanya karena keserakan segelintir manusia yang tidak bertanggungjawab..
Horas..Salam damai dari Jogja
April 3rd, 2008 at 9:33 pm
Horas Lae!
Well done Lae Alfons….. good on you mate…Wah lama tak ada kabar rupanay belaunya sedang sibuk di lapangan…mantap coy. Maju terus panang mundur demi sang primadona
Cheers,
Prast
April 6th, 2008 at 10:41 pm
Hai bro….wah salut buat Mas Alpons dan kawan-kawan di Aek Nauli yang mereboisasi lahan di sekitar Toba Lake. Semoga bisa terwujud “dream”nya….jabat erat bro!
Anies Fauzi Van Newyorkarto hadiningrat.
April 7th, 2008 at 7:03 pm
Thanks buat respon tmen-temenku.
Kok bisa bareng-bareng, dari Jogja nich?
John Harianja : Wah. pren …nomor piga harianja mi? Dang marlae hita ue….mesti ada program konservasi tarombo nih…mardongan tubu do hita. Aku par-onanrunggu, kampungnye Harianja….nomor 13. Nanti liat-liatlah, kau nomor berapa, terus kita bisa tau kita ini panggil apa satu sama laen…mauliate da…!
Prast. I leave my message in your mailbox. Check it bro. How’s Lismore? Thanks for your support. Arrange your second homeymoon in Samosir, so you can join our program. he he…Best regards for your wife, pal.
Anies:
Thank u, nanti kamu bisa kuundang baca puisi di tengah pulau, berlatar belakang danau…he he. Met kerja juga bro..salam buat Flower Market….uuuppppsss…
April 25th, 2008 at 12:09 am
Terimakasih banyak fuang atas segala upaya dan kreativitas yang sudah dilakukan sehubungan dengan keperdulian ekosistem lingkungan terutama dihitaan masih sangat banyak tanah tanah longsor yang terjadi akibat akar pepohonan yang tidak kuat menahan longsoran dan juga disebabkan gundul alias pohonnya ditaba buat soban akibat naiknya harga miak tano. Sangat diperlukan sosialisasi tentang keperdulian pemeliharaan Lingkungan.
Alai fuang molo hanya sumbang saranpe ahu, sabarlah dulu kedangku terutama kita marga Harianja harus ikut andil dalam hal kebaikan, Semoga Tuhan memberkati aha nataulahon
Mudah-mudahan sesuai dengan judul laguima WE’LL NEVER WALK ALONE Horas taudutipe selanjutnya
April 29th, 2008 at 1:39 am
Bravo Lae utk upayanya yg luar biasa itu..apa yg lae lakukan itu harus didukung banget,n saya mau ikutan berperan jg utk Go-Green Samosir.Minggu lalu sy ikutan forum Konservasi D.Toba,lumayan menggugah n membakar semangat.Tlg kontak saya di 0625-41194 biar kt bisa ngobrol2 lebih seru lagi..Ok bro, sy tunggu kbr.GBU
April 29th, 2008 at 7:13 pm
hallo….coy…
Yang Harianja:
Nomor piga bos? Asa binoto manjou aha ate..benar itu ampara, tapi sapa pun punya tanggung jawab yang sama lah. Bule-bule yang di tuktuk pun punya respon dan tanggung jawab yang sama. Skarang kami lagi jalanin pembuatan kompos berbahan dasar eceng gondok. Kerja bareng dengan Annette (orang Jerman yang nge-batak) di Tuktuk dan kawan-kawannya di Parapat. Semoga lancar ate, asa ias tao i jala denggan muse pertanian organik di sekitar Danau Toba.
Mauliate atas doa dan responnya.
Tulus Siahaan;
Berarti kita dekat-dekat aja Lae yah. Tepatnya di sebelah mana posisi Lae di Parapat/Ajibata? Biar nanti aku main ke situ. Kami punya kantor juga sekarang di Ajibata soalnya. Oke, nanti kapan-kapan aku telponlah Lae.
Mauliate godang ma ate…Horass
May 30th, 2008 at 2:16 am
Horas Bro..
Kmaren aku search tentang samosir ‘n about huta ku. Sitanggang kan asalnya dari sana juga.. Trus aku dapet blog ini n liet ditulis oleh ito aL. abis aku baca di kantor, aku coba baca commets n mbaca ini kupikir wawasan kita tentang kegiatan di kampung lebih luas. tau, walo gak ikut. Hehehe..
Proficiat ya, ito.
Btw, pantes aku cari-cari tulisan di Analisa, gak ada lagi dari Ito al. Berarti “Manigom ” yang terakhir yaa..??
July 11th, 2008 at 8:58 pm
Horas Ito,
Cuma pengen ngasih support neh.. Moga tetap terus berjuang melestarikan Danau Toba kita. Kebanggaan orang batak di seluruh dunia. Chayo..!!
July 19th, 2008 at 11:24 am
Halo Alfons, kalau gak salah bapak gw no 13 adek gw yg laki2 no 14 atau kami no 13 hahaha nggak tahulah lupa (pokoknya anggap aja kita bersaudara ya hehehe), tp kampung ortu di Pahae (nauli ya haha)…aku seminggu ini merenung dan salut sm program Toba Dream ini, blog si Viky habis gw baca lho, mencari tahu sebenarnya ide didalamnya apa?? akhirnya hr ini kotaku disiram hujan seharian, romantisme muncul deh jd inget thn 2000 terakhir ke Danau Toba, kala itu dibukit sekitar danau toba berasap, gw inget bener wkt itu gw nangis dan sedih. Semua teman non batak selalu kagum dgn pemandangan disana, jalanan yg menuju danau toba spt di Swiss…jadi bertekadlah gw akhir bln ini harus ada realisasinya, harus memulai dr diri sendiri.
July 27th, 2008 at 8:42 pm
Buat Ito Margaretha Harianja n N Br Harianja
Mauliate ito, aku baru buka email n web lagi nih. Kami masih sibuk dengan pembibitan untuk penanaman tahap III. Kompos dari eceng gondok untuk pupuknya juga sudah beres, dikerjakan rombongan ito Annette par-Tabo. Jadi bulan depan rencana kami mau tanam lagi yang tahap III. Semoga ma lancar ate. Oi iya, aku juga the 13th generation of Harianja, jadi bapatuanya si ito N lah ya. Soalnya setau aku Harianja yang di Pahae itu, asalnya dari Gorat (Onanrunggu), biasanya mereka Bapauda-ku (tergantung nomornya).
Oke, mauliate atas dukungannya, horas dan salam buat sude dongan tubu i ate.
August 13th, 2008 at 3:28 am
Hiii Bro, just wanna say Congratulation n goodluck for the next project….masih ada lagi kan?????
Salam dari Babe gw yang ngakunya no.11 n come from ONANRUNGGU jg…..
Titip salam dong buat Bang KONO….GBU
August 18th, 2008 at 9:47 pm
As long as i can dream…i will make it real with tobadream…would u like to join?…My number is 13…the same with Mr. Kono…and actually he is my youngest brother…i’ll pass your regard on him..or..you can email him yourself…Thanks for your respond…salam n tabe buat ompung (your dad).
We are now composting water hyacinth (eceng gondok) and will apply it into our plantation site in Simanindo.
Plantation is still running well..! Horas ito L. br Harianja (aha do L na on tahe?